artikel rohani

Bersyukurlah selalu, sebuah pembelajaran mengenai berdoa.
“Dimanapun jgn pernah lupa berdoa pada waktu engkau makan, mandi, menyetir apapun juga bersyukurlah. Tuhan mendengar”
1kor10:31
10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah
Sebuah pesan yang lahir dari pengalaman pribadi ayah. Sejak muda, kami seringkali diceramahi (kalau tidak dimarahi) oleh papa karena kebandelan kami. Tetapi dalam ceramah-nya, papa seringkali menyelipkan cerita-cerita Alkitab, diantaranya saya masih ingat waktu kami begitu nakal, dan seharusnya dihukum karena kebandelan kami. Pada akhirnya kami harus mengakui di persidangan yang diselenggarakan oleh papa akan pelanggaran yang kami buat, tetapi papa membuat sesuatu kejutan yang melegakan, hari itu jumat Agung memperingati Kematian Yesus Kristus di salib, dan papa memakai alasan itu sebagai pengampunan akan “kejahatan” kami. “Karena hari ini kita memperingati Kristus yang sudah mati di kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa kita, demikian pula hari ini papa mengampuni kalian yang berbuat salah”, ujar papa. Kata-kata yang begitu melekat mengenai pengampunan yang lahir dari tindakan nyata. Tidak sadar kata-kata itu meninggalkan bekas yang mendalam di hati seorang anak untuk belajar mengenai pengampunan.

Papa sendiri bukanlah sosok yang sempurna, namun menjadi sempurna karena melalui teladan beliaulah, kami disempurnakan didalam TUHAN. Suatu kali saya bercakap dengan kakak saya di Jepang, dan kami terheran-heran dengan segala ketidaksempurnaan yang ada didalam keluarga kami, tetapi TUHAN mampu membentuk kami semua menjadi pribadi yang unik dengan mimpi yang unik. Terucap satu pesan dari kakak saya bahwa dibalik semua kesuksesan yang ada, ada papa yang selalu berdoa buat kami semua.

Seringkali papa menceritakan kisah-kisah bagaimana dia mengarungi kehidupan di atas motor (ironisnya, beliau tidak mau kami naik motor, lebih baik kami naik kendaraan umum, bus, kereta api, taksi), dimasa-masa dia selalu berdoa sepanjang perjalanan mengendarai motor yang diklaimnya sebagai waktu pribadinya dengan TUHAN (sementara saya menghabiskan waktu saya di kendaraan dengan Ronald Tike di Jak FM 101).

Papa telah memberikan waktunya untuk TUHAN lebih dari orang lain yang saya pernah lihat di dunia ini, waktu-waktu doanya menjadi begitu penting, seringkali kami dimarahi karena kami tidak menghargai waktu dia berdoa. Beberapa kali papa mengungkapkan doanya kepada kami, setiap hari dia berdoa untuk kakak di Jepang yang berjuang bertahun-tahun seorang diri mengarungi kehidupan yang keras, dia berdoa untuk adik saya yang bergumul kepada TUHAN (terkadang dalam tangis dan air mata), dia berdoa untuk saya, anak yang paling dikhawatirkannya karena “ketidakmandiriannya”, dia berdoa untuk saudara-saudari saya yang lain (meskipun setiap kali bertemu selalu mengingat-ingat masa lalu yang tidak mengenakan). Terkadang dia menangis dalam doanya, meskipun seringkali dia menemukan kelegaan didalamNya.

Suatu kali di masa yang paling sulit dalam kehidupan keluarga ini, pada waktu ekonomi begitu carut marut, dan keluarga diambang perpecahan. Papa menuliskan suatu kata yang akan saya ingat seumur hidup saya, “Saya bukanlah hamba Uang, saya adalah hamba TUHAN”. Suatu kata yang entah bagaimana melekat di hati saya, saya sudah melihat kejayaan dan kehancuran yang melibatkan uang, namun di sisi yang lain saya melihat seorang hamba TUHAN yang berjuang dalam hidupnya untuk taat.

Dan hari itu saya belajar satu hal lagi, untuk mensyukuri apapun yang dihadapi, melihat papa yang mengalami begitu banyak turbulansi dalam kehidupannya. Saya menyakini kata-kata itu lahir dari pengalaman pribadi papa, suatu masa yang cukup panjang yang teruji didalam kehidupannya bersama TUHAN.

Sekali lagi, untuk menutup artikel ini. Papa sendiri bukanlah sosok yang sempurna, namun menjadi sempurna karena melalui teladan beliaulah, kami disempurnakan didalam TUHAN.

About juniornainggolan28

I'm one cool, and easy to take along.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s